{"id":30231,"date":"2025-09-25T19:00:58","date_gmt":"2025-09-25T10:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=30231"},"modified":"2025-09-25T19:10:06","modified_gmt":"2025-09-25T10:10:06","slug":"riset-msc-social-commerce-tumbuh-pesat-tapi-perempuan-masih-tertinggal-di-ekonomi-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=30231","title":{"rendered":"Riset MSC: Social Commerce Tumbuh Pesat, Tapi Perempuan Masih Tertinggal di Ekonomi Digital"},"content":{"rendered":"<p>Riset MSC 2025 mengungkap mayoritas perempuan pelaku *social commerce* di Indonesia masih mengandalkan dana pribadi dan minim pelatihan, sehingga perlu ekosistem digital inklusif dan akses pembiayaan formal agar usaha mereka bisa tumbuh berkelanjutan.\n<\/p>\n<p>\u201cSaya hanya tahu fitur katalog di WhatsApp Business dari wawancara ini.<br \/>\nSaya harap ada pelatihan supaya bisa menggunakannya dengan efektif.\u201d ujar<br \/>\nJumiyah, pengusaha kuliner di Balikpapan. <\/p>\n<p>Cerita Jumiyah bukan kasus tunggal. Ribuan pengusaha mikro di Indonesia,<br \/>\nterutama perempuan, kini menggantungkan mata pencahariannya pada <i>social commerce<\/i>, aktivitas jual beli<br \/>\nbarang dan jasa melalui media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan TikTok.<br \/>\nNamun di balik geliat ini, masih banyak pengusaha yang berjalan tanpa<br \/>\nperlindungan, pelatihan, maupun akses keuangan formal.<\/p>\n<p><i>Social commerce<\/i> berbeda<br \/>\ndengan e-commerce formal yang lebih terstruktur. Ia dikelola secara sederhana,<br \/>\nberbasis jaringan pribadi, dan banyak dijalankan oleh pengusaha mikro informal.<br \/>\nMenurut PP<br \/>\nNo. 7 Tahun 2021, pengusaha mikro adalah pengusaha produktif dengan modal usaha<br \/>\nmaksimal Rp 1 miliar atau omzet tahunan hingga Rp 2 miliar. Banyak<br \/>\npelaku <i>social commerce<\/i> tergolong pengusaha mikro informal, yakni usaha<br \/>\nperorangan berskala kecil yang dikelola sederhana, belum sepenuhnya tercatat<br \/>\nsecara formal, dan berbasis jaringan pribadi.<\/p>\n<p>Riset terbaru MSC (MicroSave Consulting) Southeast Asia yang berjudul <i>\u201cThe Landscape and Financial Access of<br \/>\nSocial Commerce Sellers in Indonesia\u201d<\/i> dilakukan MSC di tujuh provinsi di<br \/>\nIndonesia dengan memanfaatkan data Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas),<br \/>\nuntuk menganalisis distribusi usaha sosial di berbagai wilayah. Fokus utamanya<br \/>\nadalah menelusuri perjalanan para pengusaha <i>social<br \/>\ncommerce<\/i>, terutama perempuan, dalam mengakses layanan keuangan digital,<br \/>\nmemahami hambatan yang mereka hadapi, serta menguji potensi model kredit<br \/>\nberbasis data untuk meningkatkan inklusi keuangan.<\/p>\n<p>Studi ini menemukan 74% pelaku perdagangan sosial masih mengandalkan<br \/>\ndana pribadi untuk modal usaha. Hanya sebagian kecil yang mendapatkan kredit<br \/>\ndari lembaga keuangan formal. Perempuan memang lebih aktif berjualan lewat<br \/>\nmedia sosial, tetapi cenderung lebih berhati-hati mengambil risiko finansial.<br \/>\nBanyak yang memilih skema informal seperti arisan dibanding pinjaman bank.<br \/>\nSelain itu, kurangnya integrasi fitur <i>end-to-end<\/i><br \/>\n(berupa katalog, pembayaran, logistik, dll) membuat transaksi tetap manual,<br \/>\nrawan risiko, dan tidak tercatat. Kondisi ini menjadi hambatan utama untuk<br \/>\nmengakses pembiayaan formal.<\/p>\n<p>Riset ini juga mencatat hanya 5,8% pengusaha yang pernah mengikuti<br \/>\npelatihan bisnis. Angka ini menunjukkan perlunya pendekatan pelatihan yang<br \/>\nfleksibel, murah, dan sesuai dengan platform yang digunakan pengusaha<br \/>\nsehari-hari.<\/p>\n<p>Cerita lain datang dari Ratna, pengusaha kerajinan di Jawa Barat, yang<br \/>\nmengandalkan WhatsApp dan arisan komunitas untuk menopang usahanya. Ia menolak<br \/>\nmenggunakan pembayaran digital karena khawatir dengan penipuan, dan merasa<br \/>\nsistemnya terlalu rumit. <\/p>\n<p>\u201cSaya tidak terbiasa dengan sistem perbankan, saya percaya pada<br \/>\norang-orang yang saya kenal,\u201d katanya. Sikap ini mencerminkan rendahnya adopsi<br \/>\ndigital di antara pengusaha berbasis komunitas yang rentan kehilangan akses<br \/>\njika tidak ada pendekatan inklusif dan edukatif.<\/p>\n<p>Temuan-temuan ini menyoroti urgensi membangun ekosistem digital yang<br \/>\ninklusif dan aman, mulai dari regulasi yang mendukung, perlindungan konsumen,<br \/>\nhingga pemanfaatan data alternatif untuk <i>credit<br \/>\nscoring<\/i>. Platform digital juga perlu menghadirkan fitur yang sederhana dan<br \/>\nramah pengguna agar pengusaha informal bisa berkembang tanpa harus berpindah ke<br \/>\ne-commerce yang kompleks.<\/p>\n<p>&#8220;<i>Social commerce <\/i>bukan<br \/>\nsekadar berjualan online, tapi menjadi ruang penting bagi perempuan untuk<br \/>\nmembangun usaha, sementara masih bisa mengurus keluarga, dan mengakses peluang<br \/>\nekonomi digital. Sudah saatnya mereka didukung dengan sistem yang mendorong<br \/>\nmereka untuk berpertisipasi secara formal dalam kegiatan ekonomi, khususnya<br \/>\nekonomi digital,&#8221; ujar Grace Retnowati, Direktur MSC Southeast Asia.<\/p>\n<p>Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza<br \/>\nAdha Damanik, menegaskan bahwa penguatan kapasitas dan akselerasi skala UMKM<br \/>\nmerupakan kunci dalam menjaga daya saing nasional. Namun, dukungan tersebut<br \/>\nharus tetap selaras dengan karakteristik UMKM yang beragam agar program<br \/>\nkebijakan yang dijalankan benar-benar efektif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Menurutnya, riset ini menjadi krusial di tengah pesatnya pertumbuhan<br \/>\nsocial commerce di Indonesia, yang belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem<br \/>\npendukung yang inklusif dan aman.<\/p>\n<p>\u201cUntuk itu, kehadiran social commerce seharusnya mampu memberikan<br \/>\nproteksi kepada pengusaha UMKM melalui promosi produk secara gratis di media<br \/>\nsosial, serta membuka akses ke pasar yang lebih luas,\u201d ujar Riza.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan bahwa meski social commerce memberikan banyak<br \/>\nmanfaat, tetap diperlukan pendampingan dan pengawasan yang ketat, mengingat<br \/>\ntantangan seperti persaingan dengan maraknya produk impor merupakan sebuah<br \/>\nkeniscayaan.<\/p>\n<p>Untuk mendiseminasikan temuan ini, MSC bersama Kementerian UMKM akan<br \/>\nmenyelenggarakan webinar pada 25 September 2025<b> <\/b>dengan tema: \u201cAkses Pembiayaan bagi Penjual Informal Perempuan<br \/>\ndalam Social Commerce\u201d. Acara ini turut dihadiri sejumlah Kementerian dan<br \/>\nLembaga, praktisi, pelaku UMKM dan media.<\/p>\n<p>Riset ini menjadi krusial di tengah pesatnya pertumbuhan social commerce<br \/>\ndi Indonesia. Sejak diberlakukannya Permendag No. 31 Tahun 2023<b>,<\/b> pemerintah menegaskan langkah<br \/>\nproteksi terhadap UMKM dalam negeri agar tetap terlindungi dari dominasi<br \/>\nalgoritma platform besar. Dalam praktiknya, kebijakan ini mendorong pengusaha<br \/>\nmikro untuk semakin mandiri memanfaatkan platform yang ada, meskipun masih<br \/>\nmenghadapi tantangan dalam hal integrasi fitur, akses pasar, dan literasi<br \/>\ndigital.<\/p>\n<p>Namun, peluang untuk membangun ekosistem yang lebih inklusif masih<br \/>\nterbuka lebar. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang<br \/>\nberperspektif gender, dan kolaborasi lintas sektor, perdagangan sosial bisa<br \/>\nmenjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi perempuan dan kelompok rentan.<\/p>\n<p>Saat perempuan dan pengusaha mikro mendapat akses yang setara terhadap<br \/>\npembiayaan, pelatihan, dan perlindungan digital, mereka tidak hanya bertahan,<br \/>\ntetapi mampu tumbuh, berinovasi, dan mendorong perubahan di era ekonomi digital<br \/>\nIndonesia. <\/p>\n<p>Unduh laporan lengkapnya di sini: <a href=\"https:\/\/tinyurl.com\/nbr43sk5\">https:\/\/tinyurl.com\/nbr43sk5<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Riset MSC 2025 mengungkap mayoritas perempuan pelaku *social commerce* di Indonesia masih mengandalkan dana pribadi dan minim pelatihan, sehingga perlu ekosistem digital inklusif dan akses [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":30233,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-30231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=30231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30232,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30231\/revisions\/30232"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/30233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=30231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=30231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=30231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}