{"id":30872,"date":"2025-10-02T15:42:13","date_gmt":"2025-10-02T06:42:13","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=30872"},"modified":"2025-10-02T16:08:51","modified_gmt":"2025-10-02T07:08:51","slug":"bersama-menyelamatkan-industri-baja-nasional-sebagai-pondasi-pembangunan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=30872","title":{"rendered":"Bersama Menyelamatkan Industri Baja Nasional sebagai  Pondasi Pembangunan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta,  2 Oktober 2025 &#8211; PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada hari Selasa, 30 September 2025, bertempat di Gedung DPR RI, Jakarta. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan sejumlah langkah strategis penyehatan perusahaan yang menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan industri baja nasional.<\/p>\n<p>Pasalnya, Industri baja<br \/>\nnasional merupakan pondasi strategis pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.<br \/>\nBaja berperan vital dalam berbagai sektor pembangunan, di antaranya dalam<br \/>\nmendukung proyek strategis nasional, ketahanan energi dan teritorial, proyek<br \/>\nmanufaktur dan hilirisasi mineral, pembangunan perumahan (program 3 juta rumah),<br \/>\nindustri otomotif dan transportasi, hingga pertahanan dan keamanan nasional.<\/p>\n<p>Sebagai industri strategis<br \/>\nyang menguasai hajat hidup orang banyak, penguasaan sektor baja oleh negara<br \/>\nsejatinya memiliki landasan konstitusional sebagaimana diamanatkan dalam UUD<br \/>\n1945 Pasal 33 ayat 2, yaitu \u201ccabang-cabang produksi yang penting bagi negara<br \/>\ndan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara\u201d dan pasal 33 ayat<br \/>\n3, yaitu \u201cbumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai<br \/>\nnegara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat\u201d. Dengan<br \/>\ndemikian, intervensi pemerintah terhadap industri baja bukan sekadar pilihan,<br \/>\nmelainkan keharusan konstitusional.<\/p>\n<p><b>Tantangan Industri Baja<br \/>\nDomestik Hingga Global<\/b><\/p>\n<p>Secara statistik, kebutuhan<br \/>\nbaja di Indonesia terus meningkat. Hal ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi<br \/>\nyang sehat. Namun, industri baja nasional masih menghadapi tekanan dari produk<br \/>\nimpor. Sekitar 40\u201355% kebutuhan baja nasional masih dipenuhi oleh impor, atau<br \/>\nsetara dengan nilai 80 triliun rupiah per tahun. Utilisasi kapasitas industri<br \/>\nbaja Indonesia saat ini masih di bawah 57%, jauh dari standar ideal sebesar<br \/>\n80%. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya produk impor sebenarnya masih mampu<br \/>\ndiproduksi di dalam negeri.<\/p>\n<p>\u201cBerdasarkan pengalaman<br \/>\nKrakatau Steel dalam mencari mitra kerja sama, hal pertama yang selalu mereka<br \/>\ntanyakan adalah bagaimana proteksi baja impor di Indonesia, karena jika<br \/>\nproteksi tidak kuat, mereka lebih memilih impor ke Indonesia dibandingkan<br \/>\ndengan berinvestasi di Indonesia,\u201d terang Direktur Utama PT Krakatau Steel<br \/>\n(Persero) Tbk, \u00a0Akbar Djohan saat<br \/>\nmelakukan pemaparan pada RDP dengan Komisi VI DPR RI (30\/9).<\/p>\n<p>Dalam skala global, industri<br \/>\nbaja saat ini menghadapi tekanan besar akibat <i>oversupply<\/i> dari Tiongkok.<br \/>\nNegara tersebut meningkatkan ekspor baja sebagai upaya menekan kelebihan<br \/>\npasokan domestik, sehingga mendorong penurunan harga dan margin industri baja<br \/>\ndunia. Ekspor baja Tiongkok meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2022<br \/>\nhingga 2024, yaitu dari 67 juta ton per tahun menjadi 117 juta ton per tahun<br \/>\nhingga akhir 2024. Angka ini menunjukkan kurang lebih 53% ekspor dilakukan<br \/>\nTiongkok ke negara berkembang khususnya ke negara Asia atau sebesar 40 \u2013 48<br \/>\njuta ton per tahun.<\/p>\n<p><b>Belajar dari Industri Baja<br \/>\nInternasional<\/b><\/p>\n<p>Pemerintah Indonesia saat<br \/>\nini baru menerapkan Bea Masuk <i>Anti Dumping<\/i> (BMAD) untuk produk <i>Hot<br \/>\nRolled Plate (HRP) dan Hot Rolled Coil (HRC).<\/i> Namun, produk <i>Cold Rolled<br \/>\nCoil (CRC<\/i>) dan baja hilir masih minim proteksi jika dibandingkan,dengan beberapa<br \/>\nnegara yang telah menerapkan proteksi tarif impor yang kuat. Negara-negara<br \/>\ntetangga dalam lingkup ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, juga Uni<br \/>\nEropa telah menerapkan tarif impor setidaknya 20% untuk produk baja<br \/>\ndomestiknya. Amerika Serikat bahkan menerapkan tarif impor 265,79% untuk CRC<br \/>\ndan 137,76% untuk produk baja hilir.<\/p>\n<p>Paradigma persaingan<br \/>\nindustri baja global kini bukan lagi antara perusahaan berhadapan dengan perusahaan,<br \/>\nmelainkan antara kebijakan Pemerintah berhadapan dengan kebijakan Pemerintah<br \/>\ndalam melindungi industri baja dalam negerinya. Oleh karena itu, Indonesia<br \/>\nperlu segera memperkuat instrumen proteksinya. Dengan dukungan kebijakan<br \/>\nPemerintah dan restrukturisasi keuangan, Krakatau Steel Group optimis mencatat<br \/>\npertumbuhan yang lebih baik.<\/p>\n<p><b>Program Penyehatan dan<br \/>\nDukungan yang Diharapkan<\/b><\/p>\n<p>Krakatau Steel menetapkan<br \/>\ntiga inisiatif strategis dalam program penyehatan. Pertama, yaitu membangun<br \/>\nbisnis <i>core steel<\/i> yang sustainable dengan melakukan penguatan pada<br \/>\nfasilitas produksi <i>Hot Strip Mill (HSM)<\/i> dan <i>Cold Rolling Mill (CRM)<\/i>,<br \/>\nhingga efisiensi biaya menyeluruh untuk meningkatkan daya saing. Kedua, melakukan<br \/>\npengembangan bisnis infrastruktur dan downstream, di antaranya pengembangan<br \/>\nkawasan industri dan fasilitas penunjang hingga optimalisasi hilirisasi produk<br \/>\nbaja. Dan yang ketiga, yaitu restrukturisasi keuangan, di antaranya dukungan<br \/>\npendanaan modal kerja dari Danantara hingga restrukturisasi utang Perseroan.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat industri<br \/>\nbaja domestik membutuhkan dukungan dari berbagai pihak di antaranya:<\/p>\n<p><b>1.\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\n<\/b><b>Restrukturisasi Utang &amp; Modal Kerja<\/b><\/p>\n<p>Penyediaan modal<br \/>\nkerja untuk keberlangsungan operasi Krakatau Steel.<\/p>\n<p><b>2.\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\n<\/b><b>Pengendalian Tata Niaga Impor<\/b><\/p>\n<p>Impor baja hanya dilakukan bila kebutuhan tidak dapat dipenuhi produsen<br \/>\ndalam negeri.<\/p>\n<p><b>3.\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\n<\/b><b>Perlindungan Pasar Baja Domestik<\/b><\/p>\n<p>Percepatan<br \/>\npenerapan instrumen proteksi berupa BMAD, safeguard melalui Bea Masuk Imbalan<br \/>\n(countervailing duty), hingga Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP)<\/p>\n<p><b>4.\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\n<\/b><b>Hilirisasi dan Sinergi Industri<\/b><\/p>\n<p>Dukungan pengembangan hilirisasi baja untuk industri perkapalan, alat<br \/>\nmiliter, transportasi, serta program 3 juta rumah.<\/p>\n<p><b>5.\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\n<\/b><b>Percepatan<i> Recovery<\/i> Krakatau Steel<\/b><\/p>\n<p>Menjadikan<br \/>\nKrakatau Steel Group sebagai \u201c<i>One Stop Services<\/i>\u201d rantai pasok baja<br \/>\nnasional melalui kolaborasi dengan swasta hingga koperasi.<\/p>\n<p>Komisi VI DPR RI menyambut positif hingga turut<br \/>\nberkomitmen dalam upaya mengembalikan kedaulatan industri baja nasional. Pihaknya<br \/>\nmengakui begitu banyak tantangan dan peluang yang dihadapkan industri baja di<br \/>\nhulu hingga ke hilir yang perlu diselesaikan bersama, khususnya Krakatau Steel Group<br \/>\nyang menjadi tumpuan industri baja nasional.<\/p>\n<p>Adapun dukungan yang disetujui oleh Komisi VI<br \/>\nDPR RI di antaranya terkait pelaksanaan dan percepatan restrukturisasi utang<br \/>\ndan penyediaan modal kerja oleh Danantara sebesar USD500 juta yang akan<br \/>\ndiberikan secara bertahap untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku untuk<br \/>\noperasional Perusahaan, pengendalian tata niaga impor, percepatan penerapan<br \/>\ninstrument perlindungan pasar baja domestik, pelaksanaan hilirisasi produk baja<br \/>\nmelalui sinergi dengan berbagai industri terutama dalam mendukung Asta Cita,<br \/>\nmenjadikan Krakatau Steel Group sebagai <i>one stop services<\/i> sebagai<br \/>\nkepanjangan tangan Pemerintah Indonesia, hingga mengadakan rapat kerja atau <i>konsinyering<\/i><br \/>\ndengan Danantara, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian<br \/>\nKeuangan, para pelaku industri baja nasional, hingga industri lainnya yang<br \/>\nmasih berkaitan dengan upaya penyelamatan industri baja nasional.<\/p>\n<p>\u201cSemua anggota Komisi VI DPR RI mendukung upaya<br \/>\nperbaikan untuk Krakatau Steel sebagai industri baja nasional ini bisa lebih<br \/>\nmaju lagi, dan ini sangat erat kaitannya dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah<br \/>\nyang harus terus kita dorong,\u201d jelas Pimpinan Rapat Dengar Pendapat \/ Wakil<br \/>\nKetua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto.<\/p>\n<p>Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan<br \/>\nmengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Komisi VI DPR RI sebagai semangat<br \/>\nbaru bahwa pihak legislatif memberikan atensi yang luar biasa terhadap<br \/>\nkebangkitan Krakatau Steel beserta industri baja nasional. \u201cTidak ada satu pun<br \/>\nnegara besar di dunia yang tidak memiliki industri baja yang kuat, sehingga<br \/>\nkami bertekad mati-matian membuktikan janji kami yaitu memberikan keuntungan di<br \/>\ntahun ini bahkan tahun-tahun berikutnya akan menjadi kenyataan,\u201d tutup Akbar<br \/>\nDjohan yang juga<br \/>\nmenjabat sebagai Chairman ALFI\/ILFA<br \/>\n(Asosiasi Logistik &amp; Forwarder Indonesia) serta Chairman IISIA (Indonesia<br \/>\nIron &amp; Steel Industry Association).<\/p>\n<p>Lebih lanjut, inisiatif tersebut adalah bagian dari kemajuan\/kesejahteraan<br \/>\nmasyarakat Indonesia. Dan hal ini bagian dari ASTA CITA Presiden Prabowo<br \/>\nSubianto. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 2 Oktober 2025 &#8211; PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada hari Selasa, 30 September [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":30874,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-30872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=30872"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30872\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30873,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30872\/revisions\/30873"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/30874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=30872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=30872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=30872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}