{"id":32897,"date":"2025-10-25T22:26:10","date_gmt":"2025-10-25T13:26:10","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=32897"},"modified":"2025-10-25T23:08:52","modified_gmt":"2025-10-25T14:08:52","slug":"lebih-dari-4-500-mahasiswa-upn-veteran-jakarta-belajar-berpikir-kritis-di-era-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=32897","title":{"rendered":"Lebih dari 4.500 Mahasiswa UPN Veteran Jakarta Belajar Berpikir Kritis di Era AI"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup.<\/p>\n<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup.<\/p>\n<h2>Ketika AI Menjawab, Siapa yang Berpikir?<\/h2>\n<p>&#8220;Di era AI sekarang, kita sering bertanya pada AI<br \/>\ntanpa crosscheck kebenarannya. Padahal jawaban AI belum tentu akurat,&#8221;<br \/>\nujar Jaka membuka sesi. Pernyataan sederhana itu langsung menyentuh realitas<br \/>\nmahasiswa yang tumbuh di era ChatGPT.<\/p>\n<p>Ia kemudian memberikan contoh mengejutkan: sebuah<br \/>\npenelitian MIT Media Lab yang viral dengan headline media &#8220;Menggunakan<br \/>\nChatGPT bikin lebih bodoh.&#8221; Sebagai critical thinker, Jaka mengajak<br \/>\nmahasiswa untuk tidak langsung percaya. &#8220;Kita perlu cek: seperti apa<br \/>\nmetode penelitiannya? Apa yang dimaksud &#8216;lebih bodoh&#8217;?&#8221;<\/p>\n<p>Ternyata, penelitian oleh Dr. Nataliya Kosmyna berjudul<br \/>\n&#8220;Your Brain on ChatGPT&#8221; melibatkan 54 mahasiswa yang dibagi tiga<br \/>\nkelompok: menulis esai dengan otak saja, dengan Google, dan dengan ChatGPT.<br \/>\nKelompok ChatGPT menunjukkan aktivitas otak paling lemah.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi ini bukan berarti ChatGPT membuat bodoh. Ini<br \/>\nberarti penggunaan AI tanpa critical thinking membuat otak kita pasif,&#8221;<br \/>\njelas pria yang memiliki lebih dari 13 tahun pengalaman mengembangkan sistem AI<br \/>\nberskala enterprise ini. &#8220;Yang penting bukan menghindari AI, tapi<br \/>\nmenggunakan AI dengan bijak.&#8221;<\/p>\n<h2>Membedah Argumen yang Terdengar Meyakinkan<\/h2>\n<p>Jaka mengajak mahasiswa bermain detektif logika. Argumen<br \/>\npertama: &#8220;Lulusan universitas ternama pasti sukses. Jadi kalau mau sukses,<br \/>\nharus masuk universitas ternama.&#8221;<\/p>\n<p>Melalui polling, mayoritas mahasiswa menganggap argumen<br \/>\nitu cacat. Intuisi mereka ternyata tepat. Setelah dibedah menggunakan<br \/>\nPaul-Elder Critical Thinking Framework, terungkap logical fallacy<br \/>\n&#8220;Correlation \u2260 Causation&#8221;. &#8220;Memang benar banyak lulusan<br \/>\nuniversitas ternama yang sukses. Tapi apakah karena mereka dari universitas<br \/>\nternama? Atau karena faktor lain seperti kerja keras, networking, atau<br \/>\nskill?&#8221;<\/p>\n<p>Argumen kedua lebih menohok: &#8220;Tidak perlu belajar<br \/>\nmatematika karena ada AI dan kalkulator.&#8221; Setelah dianalisis, terungkap<br \/>\nargumen ini mengandung asumsi tersembunyi dan logical fallacy &#8220;False<br \/>\nDilemma&#8221;. &#8220;Matematika bukan cuma tentang hitung-hitungan. Matematika<br \/>\nmelatih cara berpikir untuk solve complex problems dan analyze patterns,&#8221;<br \/>\nterang mantan AVP AI Product Management di Indosat ini.<\/p>\n<h2>Pertanyaan yang Menyentuh Inti<\/h2>\n<p>Di tengah sesi, seorang mahasiswa UPN Veteran Jakarta bertanya:<br \/>\n&#8220;Banyak orang percaya berpikir kritis artinya menentang atau mengkritisi<br \/>\nberlebihan. Bagaimana menyeimbangkannya?&#8221;<\/p>\n<p>Jaka menjawab, &#8220;Inti dari berpikir kritis adalah<br \/>\nberpikir jernih dan rasional. Dalam argumen bisa jadi tidak semuanya salah \u2013<br \/>\nbisa jadi ada yang benar, bahkan solid. Jika argumennya solid, harus kita<br \/>\nterima. Bila ada yang benar, apresiasi dulu baru kritisi dengan santun dan<br \/>\nelegan. Terkadang problemnya bukan pada isinya, tapi cara<br \/>\nmenyampaikannya.&#8221;<\/p>\n<p>Pertanyaan kedua dari seorang mahasiswi UPN Veteran<br \/>\nJakarta, &#8220;Mengapa kemampuan berpikir kritis lebih penting daripada<br \/>\npelajaran mata kuliah?&#8221;<\/p>\n<p>Mantan Lead Data Scientist di Telkom ini merespons dengan<br \/>\nperspektif praktis: &#8220;Keduanya penting. Di awal-awal saya bekerja,<br \/>\npelajaran kuliah sangat terpakai. Tapi berpikir kritis juga penting karena kita<br \/>\nharus membuat argumen yang jernih dan rasional agar diterima stakeholder,<br \/>\nseperti atasan, rekan kerja, partner, maupun klien. Critical thinking juga<br \/>\nmemperkuat kemampuan problem solving untuk menyelesaikan berbagai tantangan di<br \/>\ndunia kerja.&#8221;<\/p>\n<h2>Dari Startup AI ke Ruang Kelas Virtual<\/h2>\n<p>Deangan latar belakangnya yang telah membantu puluhan perusahaan<br \/>\nmengimplementasikan AI dari nol sampai implementasi dan operasional, Jaka<br \/>\nmemberikan perspektif unik kepada para mahasiswa.\u00a0 Pria yang dapat dihubungi melalui <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/jap\/\">LinkedIn<\/a><br \/>\nini tidak hanya berbicara dari teori, tetapi dari pengalaman langsung membangun<br \/>\ndan mengimplementasikan solusi AI.<\/p>\n<p>&#8220;Yang terpenting bagaimana manusia menggunakannya<br \/>\ndengan bijak. Di dunia kerja, AI bisa kasih data, tapi kalian yang harus<br \/>\nevaluate: apakah data ini akurat? Apakah kesimpulan ini logis? Apakah ada<br \/>\nperspektif lain?&#8221;<\/p>\n<p>Meski dihadiri ribuan peserta, Jaka yang juga Jakarta City<br \/>\nLead di Buildclub.ai, komunitas para AI builder di seluruh dunia ini, berhasil<br \/>\nmenciptakan suasana interaktif. Ia juga membahas berbagai jenis cognitive bias dan <i>logical fallacy<\/i> dalam webinar<br \/>\ntersebut.<\/p>\n<h2>Kebebasan untuk Berpikir<\/h2>\n<p>Di penghujung sesi, Jaka meninggalkan pesan resonan,<br \/>\n&#8220;Critical thinking bukan tentang jadi orang yang skeptis terhadap<br \/>\nsegalanya atau selalu debat. Critical thinking adalah tentang kebebasan. Ketika<br \/>\nkalian bisa berpikir kritis, kalian tidak lagi menjadi budak dari opini orang<br \/>\nlain, manipulasi media, tekanan sosial, informasi yang salah, dan keputusan<br \/>\nyang buruk.&#8221;<\/p>\n<p>Ia menutup dengan tiga tantangan, yaitu selalu bertanya,<br \/>\nselalu verifikasi, dan selalu refleksi.<\/p>\n<p>Antusiasme yang terlihat dari aktifnya chat, polling, dan<br \/>\ndiskusi menunjukkan bahwa critical thinking bukan sekadar topik akademis. Di<br \/>\nera AI yang dipenuhi informasi dari berbagai sumber, kemampuan untuk berpikir<br \/>\njernih dan rasional menjadi semakin krusial.<\/p>\n<p>Ketika webinar berakhir, ribuan mahasiswa UPN Veteran<br \/>\nJakarta itu tidak hanya membawa pengetahuan tentang <i>Critical Thinking Framework<\/i>,<br \/>\n<i>Cognitive Bias<\/i> dan <i>Logical Fallacies<\/i>. Mereka membawa kesadaran<br \/>\nbahwa pikiran mereka adalah milik mereka sendiri, dan mereka punya kuasa untuk<br \/>\nmemilih bagaimana menggunakannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":32899,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-32897","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32897"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32897\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32898,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32897\/revisions\/32898"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}