{"id":33845,"date":"2025-11-05T14:28:04","date_gmt":"2025-11-05T05:28:04","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=33845"},"modified":"2025-11-05T15:09:09","modified_gmt":"2025-11-05T06:09:09","slug":"jaga-kedaulatan-industri-nasional-tata-niaga-impor-baja-harus-diperkuat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=33845","title":{"rendered":"Jaga Kedaulatan Industri Nasional, Tata Niaga Impor Baja Harus Diperkuat"},"content":{"rendered":"<p>Industri baja menjadi pilar penting pembangunan ekonomi nasional. Namun, di tengah tren proteksionisme global, Indonesia menghadapi ancaman serius dari banjir baja impor akibat lemahnya perlindungan perdagangan. Konsistensi kebijakan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga tata niaga baja agar industri dalam negeri tetap berdaulat.<\/p>\n<p>Pengamat<br \/>\nIndustri Baja dan Pertambangan dari SMInsights, Widodo Setiadharmaji, menilai<br \/>\nsituasi global menuntut perhatian serius.<\/p>\n<p>\u201cJika<br \/>\nkebijakan pemerintah tidak dijalankan dengan konsisten, Indonesia berisiko<br \/>\nmenjadi tujuan limpahan ekspor baja dari negara lain, terutama Tiongkok.<br \/>\nSituasi global menunjukkan bahwa hampir seluruh produsen baja besar kini<br \/>\nmemperkuat perlindungan domestiknya,\u201d ujarnya di Jakarta.<\/p>\n<p>Data<br \/>\nKementerian Perdagangan menunjukkan ekspor baja Indonesia naik 22,18 persen<br \/>\ndalam lima tahun terakhir, dari USD 12,05 miliar pada 2020 menjadi USD 29,23<br \/>\nmiliar pada 2024. Namun, kenaikan ini masih didominasi produk stainless steel<br \/>\nberbasis nikel, sementara sektor baja karbon justru mengalami defisit<br \/>\nperdagangan USD 2,56 miliar.<\/p>\n<p>\u201cPertumbuhan<br \/>\nekspor memang patut diapresiasi, tetapi kemandirian industri belum tercapai.<br \/>\nKetika ekspor stainless steel melonjak, baja karbon dalam negeri justru<br \/>\nkehilangan pangsa pasar karena banjir produk impor murah,\u201d tegas Widodo.<\/p>\n<p><b>Gelombang Proteksi Global dan Ancaman<br \/>\nBaja Murah<\/b><\/p>\n<p>Tren<br \/>\nproteksionisme global semakin kuat. Amerika Serikat memberlakukan 182 tindakan<br \/>\nanti-dumping dan 61 tindakan countervailing duty (CVD) terhadap baja, serta<br \/>\ntarif Section 232 sebesar 50 persen sejak Juni 2025. Kebijakan Buy American Act<br \/>\ndan Build America, Buy America Act (BABA) juga mewajibkan proyek infrastruktur<br \/>\npublik menggunakan baja dalam negeri.<\/p>\n<p>\u201cAS menegaskan<br \/>\nbahwa baja bukan hanya komoditas dagang, tapi bagian dari strategi keamanan<br \/>\nekonomi nasional. Kebijakan ini bukti bahwa perlindungan adalah bagian dari<br \/>\nkedaulatan ekonomi,\u201d jelas Widodo.<\/p>\n<p>Uni Eropa<br \/>\nmemperketat kebijakan impor melalui Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM)<br \/>\ndan kuota impor disertai bea tambahan 50 persen. Kebijakan serupa juga<br \/>\nditerapkan Kanada, India, Korea Selatan, Meksiko, dan Thailand yang menambah<br \/>\ninstrumen anti-dumping baru sepanjang 2025.<\/p>\n<p>Akibatnya,<br \/>\npasar negara berkembang seperti Indonesia berisiko menjadi sasaran limpahan<br \/>\nbaja murah. Menurut GMK Center, 62 negara telah memberlakukan 207 tindakan<br \/>\npembatasan terhadap baja asal Tiongkok. Ekspor baja Tiongkok melonjak dua kali<br \/>\nlipat dalam lima tahun terakhir menjadi 118 juta ton pada 2024.<\/p>\n<p>\u201cKondisi ini<br \/>\nmenciptakan risiko strategis. Saat negara lain menutup pasar mereka, produk<br \/>\nbaja murah akan mencari tempat baru\u2014dan Indonesia menjadi target utama karena<br \/>\nperlindungan kita masih lemah,\u201d ujar Widodo.<\/p>\n<p>Indonesia baru<br \/>\nmemiliki lima instrumen anti-dumping aktif terhadap produk baja Tiongkok, jauh<br \/>\ndi bawah AS (26), Kanada (20), atau Thailand (12). Dampaknya, utilisasi pabrik<br \/>\nbaja karbon turun, investasi tertahan, dan lapangan kerja berkurang.<\/p>\n<p>\u201cDisparitas<br \/>\ndukungan antarnegara menciptakan arena persaingan yang tidak setara. Industri<br \/>\nbaja Indonesia beroperasi dengan biaya energi dan pembiayaan komersial,<br \/>\nsementara pesaing menikmati subsidi besar,\u201d tambah Widodo.<\/p>\n<p><b>Perlindungan Terpadu dan Strategi<br \/>\nKrakatau Steel<\/b><\/p>\n<p>Pemerintah<br \/>\nperlu segera memperkuat tata niaga impor dan membangun kerangka keamanan<br \/>\nekonomi nasional. Widodo menekankan lima langkah penting: memperluas instrumen<br \/>\ntrade remedies, menjaga harga energi industri tetap kompetitif, memperkuat<br \/>\npenerapan SNI dan TKDN, memberikan insentif fiskal serta kredit murah, dan<br \/>\nmenempatkan baja sebagai sektor strategis seperti yang dilakukan AS dan Uni<br \/>\nEropa.<\/p>\n<p>\u201cKeberhasilan<br \/>\nhilirisasi harus dilanjutkan dengan keberanian melindungi industri sendiri.<br \/>\nHilirisasi tanpa pertahanan hanya akan melahirkan paradoks\u2014ekspor tinggi tapi<br \/>\nkedaulatan industri hilang,\u201d tutup Widodo.<\/p>\n<p>Akbar Djohan,<br \/>\nDirektur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk \/ Krakatau Steel Group sangat<br \/>\nantusias menyambut dukungan terhadap langkah pemerintah memperkuat daya saing<br \/>\nindustri baja nasional termasuk menjadi mitra utama penyedia baja nasional.<\/p>\n<p>\u201cPerusahaan<br \/>\nsiap mendukung pembangunan dalam negeri khususnya dalam pemenuhan kebutuhan<br \/>\nbaja nasional, mulai dari proyek infrastruktur strategis hingga kebutuhan<br \/>\nindustri pertahanan nasional,\u201d ujar Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Chairman<br \/>\nALFI\/ILFA (Asosiasi Logistik &amp; Forwarder Indonesia) serta Chairman IISIA<br \/>\n(Indonesia Iron &amp; Steel Industry Association).<\/p>\n<p>Krakatau Steel<br \/>\nGroup juga mendukung ekosistem pertahanan nasional melalui pasokan baja bagi PT<br \/>\nPAL Indonesia dan PT Pindad (Persero). <\/p>\n<p><b>Dukungan Komisi VI DPR RI<\/b><\/p>\n<p>Mengenai<br \/>\npenguatan tata niaga industry baja nasional ini juga mendapat respon positif<br \/>\ndari DPR RI. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI<br \/>\nbeberapa waktu lalu. <\/p>\n<p>Ketua Komisi<br \/>\nVI DPR RI, Adi Satria Sulisto, menegaskan Komisi VI DPR RI mendukung<br \/>\npengendalian impor baja agar hanya dilakukan apabila kebutuhan tersebut tidak<br \/>\ndapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri. Langkah ini penting untuk memastikan<br \/>\nimpor tidak berdampak negatif terhadap keberlangsungan industri baja nasional.<\/p>\n<p>Selain itu,<br \/>\nAdi Satria Sulisto juga menekankan perlunya percepatan penerapan instrumen<br \/>\nperlindungan pasar baja domestik, seperti bea masuk antidumping (BMAD), bea<br \/>\nmasuk imbalan (countervailing duty), dan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP). <\/p>\n<p>&#8220;Kami<br \/>\nmendorong agar proses persetujuan pengajuan kebijakan tersebut di Kementerian<br \/>\nPerdagangan dapat diselesaikan dalam waktu 4 hingga 6 bulan, jauh lebih cepat<br \/>\ndari kondisi saat ini yang memakan waktu hingga dua tahun,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut,<br \/>\nKomisi VI DPR RI juga memberikan dukungan terhadap program hilirisasi produk<br \/>\nbaja nasional dengan mendorong sinergi antara industri baja dan sektor-sektor<br \/>\nstrategis seperti perkapalan, alat utama sistem senjata (alutsista),<br \/>\ntransportasi, infrastruktur energi, ketahanan pangan, serta program nasional<br \/>\nseperti pembangunan tiga juta rumah dan penyediaan makanan bergizi gratis.<\/p>\n<p>&#8220;Melalui<br \/>\nlangkah-langkah tersebut, Komisi VI DPR RI berkomitmen memperkuat daya saing<br \/>\nindustri baja nasional agar mampu menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi<br \/>\nIndonesia,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Industri baja menjadi pilar penting pembangunan ekonomi nasional. Namun, di tengah tren proteksionisme global, Indonesia menghadapi ancaman serius dari banjir baja impor akibat lemahnya perlindungan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":33847,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-33845","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33845","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=33845"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33845\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33846,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33845\/revisions\/33846"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/33847"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=33845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=33845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=33845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}