{"id":38965,"date":"2026-01-21T18:03:18","date_gmt":"2026-01-21T09:03:18","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=38965"},"modified":"2026-01-21T18:03:18","modified_gmt":"2026-01-21T09:03:18","slug":"kementerian-pu-susun-rencana-rehabilitasi-23-muara-sungai-terdampak-bencana-di-aceh-sumatera-utara-dan-sumatera-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=38965","title":{"rendered":"Kementerian PU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA, 21 Januari 2026 &#8211; Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menyiapkan rencana strategis penanganan 23 muara sungai yang tersebar di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tahapan ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana guna memulihkan kapasitas pengendalian air dan memperlancar aliran sedimen ke laut.<\/p>\n<p>Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan muara<br \/>\nsungai di wilayah terdampak bencana di Sumatera memerlukan pendekatan teknis<br \/>\nyang cermat dan spesifik. Metode penanganannya tidak dapat disamaratakan antara<br \/>\nsatu sungai dengan sungai lainnya.<\/p>\n<p>Menurut Menteri Dody, berdasarkan survei lapangan, sebagian besar<br \/>\nmuara sungai besar yang mengalami pendangkalan berat akibat sedimentasi bencana<br \/>\nmemerlukan penanganan menggunakan kapal keruk (<i>dredger<\/i>).<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar pembersihan muara itu membutuhkan\u00a0<i>dredger<\/i>.<br \/>\nTidak bisa cukup hanya menggunakan alat berat biasa seperti ekskavator atau<br \/>\nmetode percepatan lainnya. Memang ada muara tertentu yang bisa ditangani<br \/>\ntanpa\u00a0<i>dredger<\/i>, contohnya di Krueng Meureudu, tetapi dari total 23<br \/>\nmuara, mungkin hanya sekitar satu sampai tiga lokasi yang bisa menggunakan pola<br \/>\nyang sama,\u201d ujar Menteri Dody.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil inventarisasi dan survei teknis yang dilakukan<br \/>\nKementerian PU, tercatat ada 23 muara sungai terdampak bencana di tiga provinsi<br \/>\ntersebut. Di Provinsi Aceh, terdapat 8 muara terdampak. Rinciannya: 1 muara<br \/>\nsedang ditangani, 2 muara masuk dalam rencana penanganan, dan 5 muara belum<br \/>\ntertangani.<\/p>\n<p>Sementara itu di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 11 muara<br \/>\nterdampak. Rinciannya: 8 muara dalam rencana penanganan dan 3 muara belum<br \/>\nditangani. Sedangkan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat 4 muara terdampak.<br \/>\nRinciannya: 3 muara telah ditangani dan 1 muara dalam rencana penanganan.<\/p>\n<p>Menteri Dody menjelaskan bahwa penggunaan kapal keruk (<i>dredger<\/i>)<br \/>\njuga tidak dapat dilakukan serta-merta tanpa perencanaan yang matang. Tahapan<br \/>\ndesain mutlak diperlukan untuk menentukan lokasi pembuangan material hasil<br \/>\npengerukan (<i>disposal area<\/i>), apakah akan dimanfaatkan untuk memperkuat<br \/>\ntanggul, ditempatkan menjauh ke laut, atau untuk kebutuhan teknis lainnya.<\/p>\n<p>\u201cKalau materialnya mau dijadikan tanggul, desainnya juga harus<br \/>\nbenar. Jangan sampai saat terjadi banjir berikutnya, tanggulnya tidak cukup<br \/>\nkuat. Karena itu, untuk muara-muara besar, prosesnya masuk ke tahap<br \/>\nrehabilitasi dan rekonstruksi, bukan lagi sekadar tanggap darurat,\u201d jelas<br \/>\nMenteri Dody.<\/p>\n<p>Sembari\u00a0menyusun\u00a0rencana<br \/>\nstrategis rekonstruksi muara sungai, Kementerian PU saat ini juga masih<br \/>\nmemprioritaskan penanganan cepat pada infrastruktur air yang bersentuhan<br \/>\nlangsung dengan kehidupan masyarakat. Fokus utama saat ini adalah perkuatan<br \/>\ntanggul eksisting, khususnya pada sungai yang melintasi kawasan perkotaan,<br \/>\nserta normalisasi sungai pada titik-titik kritis untuk melancarkan aliran air.<\/p>\n<p>\u201cUntuk muara-muara yang relatif kecil dan bisa ditangani<br \/>\ntanpa\u00a0<i>dredger<\/i>, itu akan kita kerjakan dalam beberapa hari ke depan.<br \/>\nNamun untuk muara yang besar, pengerjaannya harus menunggu desain selesai agar<br \/>\npenanganannya tepat dan berkelanjutan,\u201d jelas Menteri Dody.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera<br \/>\nII Medan, Feriyanto Pawenrusi, menyatakan bahwa kondisi muara memegang peranan<br \/>\nvital dalam sistem pengendalian banjir dari hulu ke hilir. Penyempitan dan<br \/>\npendangkalan muara berpotensi memperlambat aliran sungai, sehingga berpotensi<br \/>\nmenyebabkan air sungai meluap ke permukiman, dan meningkatkan risiko banjir<br \/>\nberulang.<\/p>\n<p>\u201cKondisi muara ini sangat menentukan. Kalau muara tersumbat,<br \/>\nsebaik apapun normalisasi sungai di hulu, air tetap sulit keluar ke laut.<br \/>\nKarena itu penanganan muara harus menjadi bagian penting dari sistem<br \/>\npengendalian banjir secara menyeluruh,\u201d jelas Feriyanto.<\/p>\n<p>Kementerian PU memastikan penanganan muara ini akan diintegrasikan<br \/>\nsecara penuh ke dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Hal<br \/>\nini bertujuan agar fungsi hidrologi sungai dan muara dapat pulih optimal serta<br \/>\nmampu memitigasi risiko bencana hidrometeorologi di masa mendatang.<\/p>\n<p>Program kerja<br \/>\nini merupakan bagian dari \u201cSetahun Bekerja, Bergerak &#8211; Berdampak\u201d dalam<br \/>\nmenjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.<\/p>\n<p>#SigapMembangunNegeriUntukRakyat<\/p>\n<p>#SetahunBerdampak<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/www.vritimes.com\/id\/articles\/144019dc-808a-4678-8331-72317289263d\/fbe09595-c5bc-430d-8eb0-9edefa56ec3b\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, 21 Januari 2026 &#8211; Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menyiapkan rencana strategis penanganan 23 muara sungai yang tersebar di wilayah terdampak bencana di Provinsi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":38966,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-38965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=38965"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38965\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/38966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=38965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=38965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=38965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}