{"id":42126,"date":"2026-03-27T19:02:54","date_gmt":"2026-03-27T10:02:54","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=42126"},"modified":"2026-03-27T19:02:54","modified_gmt":"2026-03-27T10:02:54","slug":"menakar-masa-depan-baja-nasional-level-playing-field-dan-data-objektif-jadi-kunci-hadapi-dominasi-impor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=42126","title":{"rendered":"Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Jadi Kunci Hadapi Dominasi Impor"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, 27 Maret 2026 &#8211; Perdagangan baja global memasuki fase baru yang semakin ditentukan oleh kebijakan negara melalui tarif, kuota impor, hingga instrumen pengamanan perdagangan. Kondisi ini menuntut penguatan kebijakan perdagangan nasional agar industri baja domestik tetap kompetitif di tengah tekanan global yang meningkat.<\/p>\n<p>Direktur Utama PT<br \/>\nKrakatau Steel (Persero) Tbk Dr. Akbar Djohan, menegaskan pentingnya<br \/>\nkonsistensi kebijakan perdagangan untuk menjaga keberlanjutan industri baja<br \/>\nnasional.<\/p>\n<p>\u201cPerdagangan<br \/>\nbaja global saat ini semakin ditentukan oleh kebijakan negara. Karena itu,<br \/>\npenguatan instrumen pengamanan perdagangan dan konsistensi kebijakan impor<br \/>\nmenjadi penting agar industri baja nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan,\u201d<br \/>\nujar Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron &amp; Steel Industry<br \/>\nAssociation (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik &amp; Forwarder Indonesia<br \/>\n(ALFI\/ILFA).\u00a0<b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>Pasar Baja Global Semakin<br \/>\nTertutup<\/b>\u00a0<\/p>\n<p>Pengamat<br \/>\nIndustri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji, Steel &amp; Mining Insights<br \/>\nmenilai bahwa lanskap perdagangan baja global kini semakin bergeser dari<br \/>\nmekanisme pasar terbuka menuju sistem yang dikendalikan oleh kebijakan negara.<br \/>\nBerbagai negara mulai mengombinasikan instrumen tarif, Tariff Rate Quota (TRQ),<br \/>\nserta kebijakan pengamanan perdagangan untuk membatasi akses pasar baja impor.<\/p>\n<p>Selain<br \/>\ntarif dan kuota, instrumen anti-dumping dan countervailing duties juga semakin<br \/>\nsering digunakan untuk mengendalikan tekanan kelebihan kapasitas produksi<br \/>\nglobal. Di sisi lain, Uni Eropa memperkenalkan <i>Carbon Border Adjustment<br \/>\nMechanism (CBAM)<\/i> yang menambah beban biaya bagi impor baja melalui<br \/>\nmekanisme sertifikat karbon.<\/p>\n<p>Menurut<br \/>\nWidodo, kombinasi kebijakan tersebut membuat pasar-pasar utama dunia semakin<br \/>\ntertutup secara simultan. Akibatnya, kelebihan pasokan global cenderung mencari<br \/>\npasar alternatif yang relatif lebih terbuka.<b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>Risiko Tekanan Impor di Pasar<br \/>\nDomestik<\/b><\/p>\n<p>Dalam<br \/>\nsituasi tersebut, Indonesia berpotensi menjadi tujuan realokasi perdagangan<br \/>\nbaja global. Ketika akses pasar di Amerika Utara dan Eropa semakin ketat,<br \/>\nproduk baja dari negara produsen besar dapat mengalir ke pasar yang lebih<br \/>\nterbuka, termasuk Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Tekanan<br \/>\ntersebut tidak selalu muncul dalam bentuk lonjakan impor yang mendadak, tetapi<br \/>\ndapat terjadi melalui tekanan harga yang persisten dan persaingan pasar yang<br \/>\nsemakin ketat di dalam negeri.<\/p>\n<p>Adapun upaya penguatan industri baja nasional sejalan<br \/>\ndengan agenda pembangunan ekonomi nasional dan Asta Cita Presiden RI, Prabowo<br \/>\nSubianto, khususnya<br \/>\ndalam mendorong kemandirian industri strategis dan memperkuat daya saing sektor<br \/>\nmanufaktur.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/vritimes.com\/id\/articles\/c93ecef3-0555-442b-b447-2e6235634056\/8667e9f0-d983-4069-aa54-cb4803e08084\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 27 Maret 2026 &#8211; Perdagangan baja global memasuki fase baru yang semakin ditentukan oleh kebijakan negara melalui tarif, kuota impor, hingga instrumen pengamanan perdagangan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":42127,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-42126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=42126"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42126\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/42127"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=42126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=42126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=42126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}