{"id":45433,"date":"2026-06-05T16:02:54","date_gmt":"2026-06-05T07:02:54","guid":{"rendered":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=45433"},"modified":"2026-06-05T16:02:54","modified_gmt":"2026-06-05T07:02:54","slug":"upt-bpom-di-jawa-timur-dan-buleleng-ajak-masyarakat-selamatkan-masa-depan-jamu-indonesia-dari-ancaman-bahan-kimia-obat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seasiaonline.com\/?p=45433","title":{"rendered":"UPT BPOM di Jawa Timur dan Buleleng Ajak Masyarakat Selamatkan Masa Depan Jamu Indonesia dari Ancaman Bahan Kimia Obat"},"content":{"rendered":"<p><b>Banyuwangi, 05 Juni 2026<\/b> \u2013 Di tengah meningkatnya<br \/>\ntren hidup sehat dan konsumsi produk herbal, ancaman jamu mengandung Bahan<br \/>\nKimia Obat (BKO) masih menjadi perhatian serius. Untuk meningkatkan kewaspadaan<br \/>\nmasyarakat, Unit Pelaksana Teknis BPOM di wilayah Jawa Timur menggelar <b>Focus<br \/>\nGroup Discussion (FGD) bertema <i>\u201cMenjamu Masa Depan dengan Jamu Aman Bebas<br \/>\nBKO\u201d<\/i><\/b> dalam rangkaian Pekan Jamu Nasional 2026.<\/p>\n<p>Kegiatan ini menjadi wadah<br \/>\nedukasi sekaligus ajakan bagi masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih Obat<br \/>\nBahan Alam (OBA). Sebab, di balik janji <i>\u201csembuh cepat<\/i>\u201d dan \u201c<i>khasiat<br \/>\ninstan<\/i>\u201d, masih ditemukan produk yang mengandung BKO dan berpotensi<br \/>\nmembahayakan kesehatan. Padahal, jamu merupakan warisan budaya bangsa yang<br \/>\nmemiliki nilai ekonomi tinggi serta telah menjadi bagian dari identitas<br \/>\nIndonesia selama ratusan tahun. Karena itu, peredaran jamu yang dicampur BKO<br \/>\ntidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat menurunkan<br \/>\nkepercayaan terhadap jamu Indonesia.<\/p>\n<p>Ancaman tersebut tercermin<br \/>\ndari data BPOM yang menunjukkan temuan OBA mengandung BKO meningkat dari 54<br \/>\nkasus pada 2023 menjadi 104 kasus pada 2024, lalu melonjak menjadi 187 kasus<br \/>\npada 2025. Hingga Triwulan I Tahun 2026, masih ditemukan 33 kasus yang menandakan<br \/>\npersoalan ini belum sepenuhnya teratasi. Produk-produk tersebut umumnya<br \/>\nmenawarkan klaim hasil instan atau \u201c<i>cespleng<\/i>\u201d, yang kerap menjadi daya<br \/>\ntarik utama bagi konsumen tanpa menyadari risiko kesehatan yang dapat<br \/>\nditimbulkan.<\/p>\n<p><b>Yudi Noviandi, M.Sc.,<br \/>\nTech., Apt, Kepala Balai Besar POM di Surabaya, <\/b>menegaskan bahwa Pekan Jamu<br \/>\nNasional menjadi momentum penting untuk mendorong jamu Indonesia yang lebih<br \/>\naman dan berdaya saing. \u201cKami ingin memperkuat kolaborasi berbagai pihak untuk<br \/>\nmendukung inovasi, pemasaran, dan pengembangan UMKM jamu agar semakin dekat<br \/>\ndengan generasi muda serta mampu bersaing di pasar yang lebih luas.\u201d<\/p>\n<p>Menurut BPOM, tingginya<br \/>\npermintaan pasar menjadi salah satu faktor yang mendorong masih beredarnya<br \/>\nproduk mengandung BKO. Oleh karena itu, peningkatan literasi masyarakat menjadi<br \/>\nlangkah penting agar konsumen tidak mudah tergiur oleh klaim hasil cepat yang<br \/>\nsering digunakan untuk memasarkan produk ilegal.<\/p>\n<p>Sejalan dengan upaya<br \/>\ntersebut, <b>Benny Hendrawan Prabowo, S.Farm., Apt., Kepala Balai POM di Jember<\/b>,<br \/>\nberharap momentum Pekan Jamu Nasional dapat mendorong semakin banyak produk<br \/>\njamu asli Indonesia yang bebas BKO. \u201cJamu harus terus berkembang menjadi bagian<br \/>\ndari gaya hidup modern sehingga generasi muda dapat mengonsumsinya dengan aman,<br \/>\nnyaman, dan penuh keyakinan.&#8221;<\/p>\n<p>Senada dengan itu, <b>Winanto,<br \/>\nS.Si., Apt., M.Si., Kepala Balai POM di Kediri<\/b>, menegaskan pentingnya<br \/>\nkolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media.<br \/>\n\u201cJamu bukan hanya produk kesehatan, tetapi juga warisan budaya bangsa yang<br \/>\nharus kita jaga bersama dan dorong agar semakin berdaya saing hingga ke tingkat<br \/>\nglobal.&#8221;<\/p>\n<p>Sementara itu, <b>Rai<br \/>\nGunawan, S.Farm., Apt., Plt. Kepala Balai POM di Buleleng<\/b>, menekankan bahwa<br \/>\nupaya menghadirkan jamu yang aman tidak dapat dilakukan BPOM sendiri. \u201cEdukasi<br \/>\nharus terus digaungkan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami<br \/>\npentingnya memilih jamu yang aman dan tidak lagi memberikan ruang bagi peredaran<br \/>\nproduk yang mengandung BKO.&#8221; <\/p>\n<p>\n<b>Aziz Jihaduddin, S.Farm., Apt., Kepala Loka POM di Kota Madiun,<br \/>\n<\/b>menambahkan bahwa literasi yang kuat akan melahirkan konsumen<br \/>\nyang lebih kritis. \u201cMasyarakat perlu membiasakan diri memeriksa izin edar BPOM<br \/>\ndan tidak mudah tergiur klaim instan, karena perlindungan terbaik dimulai dari<br \/>\nkeputusan yang tepat saat memilih produk.&#8221;<\/p>\n<p>Sebagai langkah<br \/>\nperlindungan diri, BPOM mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan CEK KLIK<br \/>\n(Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) sebelum membeli atau<br \/>\nmengonsumsi produk obat bahan alam. Masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi<br \/>\nBPOM Mobile untuk memverifikasi izin edar produk serta memeriksa daftar Public<br \/>\nWarning BPOM guna menghindari produk yang terbukti mengandung BKO.<\/p>\n<p>Melalui<br \/>\nFGD ini, BPOM mengajak pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, media, dan<br \/>\nmasyarakat untuk memperkuat sinergi dalam memutus mata rantai peredaran jamu<br \/>\nmengandung BKO. Kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci untuk menjaga kesehatan<br \/>\nmasyarakat, meningkatkan daya saing produk jamu nasional, serta memastikan jamu<br \/>\nIndonesia tetap menjadi warisan budaya yang aman, bermutu, dan dipercaya hingga<br \/>\ngenerasi mendatang.<\/p>\n<p>Jangan nodai reputasi dan kepercayaan publik<br \/>\nterhadap jamu Indonesia dengan penggunaan Bahan Kimia Obat. Masa depan jamu<br \/>\nIndonesia berada di tangan kita bersama. Komitmen kita adalah 100% Obat Bahan<br \/>\nAlam, 0% kompromi terhadap BKO. <\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/vritimes.com\/id\/articles\/254602ef-6ad5-44ea-9a69-f785d77bcd31\/9e0e7c8a-f447-44c0-b697-f4268604dfca\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyuwangi, 05 Juni 2026 \u2013 Di tengah meningkatnya tren hidup sehat dan konsumsi produk herbal, ancaman jamu mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) masih menjadi perhatian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45434,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-45433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=45433"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45433\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/45434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=45433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=45433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seasiaonline.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=45433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}